"Nuduh terus... Ngancem terus... Muter-muter terus... Maunya apa sih pak? Kayaknya Pak Ahok salah terus di mata Bapak..."


Di hari terakhir kampanye sebelum memasuki hari tenang, Anies Baswedan lagi-lagi melakukan suatu blunder tidak jelas yang memberikan statement yang tidak jelas. Anies mencurigai penggunaan kekuasaan yang dilakukan oleh Pak Basuki Tjahaja Purnama melalui status aktif gubernurnya.

Seolah-olah tidak sadar dengan apa yang selama ini Anies kerjakan, ia malah menuding Ahok. Anies mungkin berpikir semua orang memiliki karakter oportunis seperti Anies. Ia membuat penilaian yang berdasarkan dan dengan standar dirinya.

Sebagai pendukung Ahok, saya melihat bahwa Pak Basuki bukanlah orang yang demikian menggunakan kekuasaan untuk mencapai keinginannya. Justru melihat apa yang sudah dikerjakan oleh Anies dan Sandi selama ini, merekalah orang-orang yang memakai “kekuatan” para kaum bumi datar untuk menolak dan mengusir Pak Haji Djarot Saiful Hidayat.

Anies mungkin harus dibelikan sebuah cermin, untuk memperlihatkan seberapa dalam dirinya menggunakan kekuasaan dan seberapa tidak sadarnya Anies melakukan pembiaran terhadap pendukungnya yang radikal, brutal, dan ekstrim.

Kekuatan terakhir yang digunakan Anies dan para pendukungnya adalah pada tanggal 19 April 2017. Mereka akan melakukan Tamasya Al Maidah untuk menjaga TPS. Alih-alih menjaga TPS, saya khawatir justru mereka malah membuat TPS menjadi ricuh. Namun untuk warga Jakarta, jangan takut memilih, TPS dipastikan aman karena sudah ada aparatur keamanan nagara yang menjamin kebebasan warga Jakarta untuk memilih.

“Yang penting adalah jangan menggunakan otoritas untuk kepentingan kemenangan, karena justru ini ujian bagi kewiranegaraan dalam demokrasi,” – Anies Baswedan setelah menyapa pendukungnya di Jalan Tebet Barat Dalam IX, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (15/4/2017).

Terlihat dari kalimat yang diucapkan Anies, ia sekarang sedang mengalami kekhawatiran. Anies Sandi mulai ketar ketir karena melihat survey yang mulai cenderung untuk memenangkan Basuki Djarot. Bisa saja dengan melihat survey tersebut, Anies Sandi dan timsesnya mulai memikirkan senjata pamungkas mereka yang terakhir, yaitu Tamasya Al-Maidah. Inikah otoritas pamungkas Prabowo, Anies, Sandi, dan timsesnya di dalam menggetarkan TPS TPS seluruh Jakarta? 




Ketakutan Anies sudah mulai terlihat. Wajahnya di hari terakhir kampanye ini berubah. Awalnya kita kenal Anies yang santun, dalam kurun waktu Pilkada, menjadi Anies yang nyinyir, culas, dan tidak berkaca kepada masa lalu. Masa depan Indonesia yang hampir direnggut oleh kemenangan Prabowo, seharusnya membuat Anies belajar.

Anies tidak perlu berdamai dengan masa lalu, Anies tidak perlu berdamai dengan Prabowo, karena sejatinya Prabowo adalah sosok yang cukup mengkhawatirkan. Apalagi ia pernah begitu dekat dengan kekuasaan rezim orde baru yang dipimpin oleh Soeharto.

Berbicara tentang penggunaan kekuasaan dan otoritas, sebenarnya Anies sedang berkata-kata kepada dirinya sendiri dan tim sukses. Prabowo yang menjadi pengusungnya dikenal sebagai sosok yang “tidak mau kalah” dan sosok yang sangat “mengerikan”. Padahal dahulu kala, ia dikenal dengan jiwa nasionalis dan ksatria. Namun sejak kekalahannya di pilpres 2014, Prabowo berubah dan menjadi tidak rela menerima kekalahannya. Ingatkah warga Indonesia mengenai gugatan-gugatan yang diluncurkannya ke MK?

Apakah Anda lebih memilih berada di bawah otoritas Basuki Djarot atau otoritas Anies Sandi? Tentu jikalau warga Jakarta yang masih “sehat” diberikan pertanyaan tersebut, kita akan memilih untuk berada di bawah otoritas Ahok Djarot, ketimbang otoritas dari pendukung Anies Sandi yang barbar, radikal, ekstrim, dan brutal.

Otoritas yang digunakan oleh Anies sekarang ini harus dihentikan. Semoga saja masa tenang yang akan diikuti, benar-benar membuat kita tenang dan memilih dengan rasional. Maka di dalam hari terakhir kampanye, izinkan saya untuk mengundang seluruh warga Jakarta untuk datang ke TPS pada tanggal 19 April, coblos Pak Ahok dan Pak Djarot, dengan berani kita menyuarakan kebenaran dan kemerdekaan Jakarta dari otoritas yang lebih mengerikan kelak.

“Jadi ujiannya justru saat diberikan kekuasaan, apalagi di masa-masa tenang. Jadi tunjukkan bahwa memang otoritasnya bukan dipakai untuk kegiatan kampanye,” Anies Baswedan

Otoritas-otoritas di luar batas, justru digunakan oleh para pendukung Anies Sandi. Kejadian pengusiran Haji Djarot menjadi salah satu contoh nyata. Demi kebaikan bersama, tentu tidaklah berlebihan jika kita lebih memilih berada di bawah otoritas Ahok Djarot, ketimbang ada di bawah otoritas Anies Sandi. Karena sejatinya otoritas Ahok Djarot sifatnya membebaskan, sedangkan otoritas Pendukung Anies Sandi bersifat mengancam. 





Betul kan yang saya katakan?

https://seword.com/politik/ahok-kembali-aktif-jadi-gubernur-anies-ketakutan-jangan-pakai-otoritas-untuk-menang/

0 Response to ""Nuduh terus... Ngancem terus... Muter-muter terus... Maunya apa sih pak? Kayaknya Pak Ahok salah terus di mata Bapak...""

Post a Comment