"Orang ini Ungkap Kemiripan Anies dengan PKI.. Ternyata Ngeri juga ya.."


Semakin jelas “pemberontakan” akal sehat yang dilakukan oleh pasangan calon nomor urut tiga, Anies-Sandi, yang terus menerus mencoba menempatkan dirinya menjadi se”hebat” Ahok dengan tiada henti menentang dan menantang bahwa Anies lebih baik, lebih bersih, lebih berani bahkan lebih nekat. Usaha yang berasal dari suatu perilaku dan karakter paslon yang “frustasi” sebab analisanya yang semakin “tidak dimengerti” namun tetap nekad bahkan alhasil membuat dirinya semakin nampak “aneh”.

Merasa yakin memenangkan kontesasi pilkada DKI disebabkan telah “sukses” membawa isu SARA yang membawa sentiment dan mengklaim bahwa telah berhasil membuat runcing setiap perbedaan yang ada, terutama perbedaan agama.

Penduduk DKI Jakarta hampir 83 persen adalah muslim dan berusia muda (produktif), paslon ini (Anies-Sandi) yakin bahwa mereka memenangkan suara dari segmentasi tersebut, namun Anies ternyata patut dipertanyakan “kepintarannya” bahwa penduduk DKI Jakarta adalah memiliki penduduk dengan tingkat pendidikan tertinggi di Indonesia sehingga mayoritas mempunyai relatifitas rasionalitas yang sangat tinggi.

Dengan logika yang baik rakyat DKI dipastikan akan mengalami “kebingungan” tersendiri saat Anies berbicara dan melakukan manuver politiknya. Saat semua orang tahu bahwa kalijodo (pusat prostitusi di DKI) yang banyak orang bersyukur dan bersuka cita ketika “dibenahi” wilayah yang selama ini menyumbangkan budaya “korupsi” dan kotor nya administrasi pemerintahan namun dengan sangat baik dapat diselesaikan oleh Ahok (dibersihkan), Anies justru dengan manuver yang terkesan menghalalkan segala cara untuk menang.

Anies mengatakan, hal yang seharusnya dilakukan di Kalijodo adalah penataan kampung.

“Kampung diremajakan, ditata ulang, warganya tetap tinggal di sana, tetapi kampungnya menjadi kampung yang bersih, sehat, baik, dan masing-masing memiliki tempat tinggal,” ujar Anies. 

Pernyataan yang sama “anehnya” ketika Anies justru berkawan baik dengan ormas radikal “perusak” tatanan masyarakat, FP*, semata untuk memperoleh dukungan suara, kini hal yang sama dilakukan ketika mensikapi permasalahan Kalijodo yang dikenal sebagai “penyakit” yang telah diselesaikan oleh Ahok, memang menghasilkan barisan “sakit hati” dampak dari “menyehatkan” lingkungan masyarakat.

Anies menentang apa yang Ahok lakukan untuk kalijodo dan bersikap bahwa ‘seharusnya” jangan digusur, tapi hanya ditata, pernyataan sikap yang jelas menunjukkan bahwa Anies akan melakukan “pemberontakan” akal sehat yakni dengan mengumpulkan semua golongan sakit hati dampak dari suatu ketegasan Ahok yang bertujuan kebaikan untuk masyarakat. Anies secara tidak langsung menempatkan diri berhadap-hadapan langsung dengan masyarakat, bukan sekedar menentang Ahok.

Apa yang akan terjadi jika calon pemimpin yang “miskin” ide lalu mencoba menempatkan dirinya menjadi penantang namun tidak memiliki “program”, konsep penantang memang mengatakan dan melakukan sesuatu yang selalu berlawan dengan pemimpin market (Ahok). Saat petahana yang memimpin market (hati masyarakat) ke kanan maka penantang akan mengambil jalan kekiri, saat petahana berbuat baik maka penantang akan berusaha melakukan sebaliknya dengan harapan akan mendapatkan suara yang akan menandingi pemimpin market tersebut (petahana).

Anies-sandi sudah melupakan semua etika dan estetika politik yang penting bisa menang, layaknya seperti dahulu kita pernah mengenal streotip di masyarakat terhadap gerakan politik partai komunis yang dilabelkan dengan menghalalkan segala cara yang penting menang, dan akhirnya cenderung mengatakan bahwa gerakan ini tidak ber “Tuhan”, sebab tidak ada karakter agamais yang mengedepankan etika dan norma dimana untuk mendapatkan kemenangan itu adalah penting, menang itu penting namun jauh lebih penting adalah proses nya harus benar, sebab semua sudah ditentukan oleh Nya, manusia hanya bertugas menjalnakan kehidupan dengan sebaik dan sebenarnya sebagai bagian dari ikhtiar.

Saat Anies-Sandi “memainkan” isu agama, semakin bersemangatnya hinggga justru tanpa disadari paslon ini memainkan etika politik PKI yang banyak ditentang oleh kaum agamais yang melihat ini adalah kelompok manusia yang tidak percaya kebesaran Tuhan, dengan semangat yang terlalu berambisi mendapatkan kekuasaan. 

Jika memang ini adalah bagian dari strategi Anies-Sandi untuk menunjukkan karakter sesungguhnya dan memenangkan kontestasi pilkada agar mendapatkan kekuasaan, demikian besarnya hasrat sehingga “memberontak” kepada akal sehat pun dilakukan, pesta demokrasi selayaknya menampilkan program yang jelas untuk dikontestasikan untuk mendapatkan program yang terbaik untuk kesejahteraan masyarakat pemilih kelak setelah pesta demokrasi tersebut “usai”.

https://seword.com/politik/manuver-politik-anies-mirip-pki-kesampingkan-etika-dan-estetika-politik/

0 Response to ""Orang ini Ungkap Kemiripan Anies dengan PKI.. Ternyata Ngeri juga ya..""

Post a Comment