Menteru PUPR, Basuki Hadimoeljono melakukan pengecekan untuk proyek pembangunan bendungan Karalloe yang terletak di Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Gowa, Sulsel.
Di dalam kunjungannya tersebut, Basuki pun meminta untuk proyek bendingan itu bisa diselesaikan dalam waktu yang secepat mungkin.
"Masa cuma bikin bendungan 7 tahun? Ini (pembangunan Karalloe) harus dipercepat. Kalau saya lihat schedule-nya, masa pengerjaannya santai-santai. Sedangkan proyek sempat terhenti 3 tahun karena masalah pembebasan lahan,” tukas Basuki.
Masalah Pembebasan Tanah
Mengenai proyek pembangunan bendungan Karalloe itu merupakan proyek yang telah dimulai sejak tahun 2013 silam yang kemudian dikerjakan oleh perusahaan kontraktor yaitu PT Nindya Karya.
Sebelumnya, proyek ini memang sempat terhenti pengerjaannya akibat selama kurang lebih 3 tahun lamanya akibat dari terbentur masalah pembebasan lahan.
Namun, pihaknya terus melakukan upaya-upaya yang keras untuk bisa menyelesaikannya dan pada akhirnya bisa selesai pada Maret 2017 kemarin.
PT Nindya Karya memiliki target untuk pengerjaan bendungan Karalloe ini bisa diselesaikan pada awal tahun 2020 mendatang.
Ancaman Basuki
Pembangunan bendungan ini diketahui menggunakan anggaran dana dari APBN sejumlah Rp 518.220.000.000 dengan perkiraan luas area tampungan air sekitar 145 hektar dengan kedalaman 85 meter.
Perbedaan antara era pemerintahan SBY dan Presiden Jokowi sangat terlihat jelas saat bagaimana Basuki mengajukan permintaan tak terduga ke PT Nindya Karya.
Guna mempercepat pekerjaan proyek pembangunan bendungan ini, Basuki tak main-main yaitu meminta secara tegas untuk PT Nindya Karya bisa merubah target pengerjaannya. Ia menganggap bahwa waktu pengerjaannya itu terlalu lama.
“Ini schedule pengerjaannya standar saja dan harus diubah. 2 Minggu bikin schedule barunya, lalu serahkan ke saya. Saya tunggu ya," ancamnya.
Pada waktu melakukan peninjauan tersebut, Basuki turut ditemani Gubernur Sulses, Syahrul Yasin Limpo, Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan, Pejabat DPR, Irwan Aras dan beberapa pejabat lain dari Kementerian PUPR.
Syahrul pun mengharapkan untuk proyek bendungan Karalloe ini bisa diselesaikan dalam jangka waktu yang cepat karena Ia meyakini bahwa kehidupan masyarakat di sekitar Kabupaten Jeneponto dapat bertambah maju dengan adanya bendingan ini.
"Jika dulu, petani hanya bisa panen 1 atau 2 kali dalam setahun. Dengan adanya bendungan Karalloe ini, bisa panen 3 kali dalam setahun. Pendapatan dalam sektor pertanian jagung mencapai Rp 2 triliun dan diharapkan dengan adanya bendungan Karalloe ini pendapatan jagung Rp 3,4 triliun pertahun," terangnya.
Perlu untuk diketahui, Syahrul turut menjelaskan bahwa Kabupaten Jeneponto selama ini sudah sangat terkenal sebagai daerah yang paling miskin dan kering.
Apabila bendungan ini bisa diselesaikan dengan cepat maka masalah-masalah yang ada di Kabupaten Jeneponto kemungkinan dapat teratasi.
"Kalau ada yang menghambat-hambat pembebasan lahan, saya minta pak Dandim dan Kapolres membantu mengamankan situasi," ungkap Syahrul.
Bendungan Karalloe berlokasi di daerah perbatasan Kabupaten Gowa dan Kabupaten Jeneponto dengan aliran air yang bersumber dari air gunung Lompobattang.
Adapun bendungan Karalloe ini diharapkan bisa mengatasi masalah banjir yang setiap tahunnya selalu terjadi di Kabupaten Jeneponto saat musim hujan.
Hal itu karena air yang berasal dari Gunung Lompobattang nantinya tak langsung mengalir ke pemukiman penduduk lagi.
Bukan hanya mengatasi banjir saja, namun bendungan Karalloe ini juga dapat menampung air sekitar 40 juta kubik. Tampungan air tersebut akan bisa dijadikan sumber irigasi yang ideal di sekitar area pertanian warga di Kabupaten Jeneponto.
"Bendungan ini bisa mengatasi banjir, bisa mengaliri air irigasi di 7.000 areal pertanian warga saat musim kemarau datang. Bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat Kabupaten Jeneponto. Areal pertanian yang tandus akan berubah nantinya menjadi subur berkat bendungan ini," ungkap Basuki.
PLTA dan Tempat Wisata
Basuki turut menyatakan bahwa untuk bendungan Karalloe ini selanjutnya juga bisa dimanfaatkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kapasitas mencapai 4,5 Mw.
Bahkan, bendungan Karalloe pun juga dapat dijadikan sebagai objek wisata baru yang ada di Kabupaten Gowa.
"Bendungan Karalloe ini sebagai penyedia air baku sebesar 440 liter per detik. Jadi bisa dimanfaatkan sebagai penyedia air bersih, jika pemerintah Kabupatennya jeli. Termasuk juga bisa dimanfaatkan sebagai kawasan perikanan air tawar," tutup Basuki.
(itusalah/kompas)

0 Response to ""Sewaktu SBY jadi Presiden, Pernahkah gak ya kepikiran lakukan Apa yang dilakukan Pak Basuki ini?""
Post a Comment